Langsung ke konten utama

Postingan

menuju pelepasan

Masih dalam perjalanan menuju pelepasan. 13,09,2020, setiap orang pernah berada di titik terendah antara terus berjalan dan memilih stagnan. Kekuatan rasa pada batin telah hancur hingga tinggal menunggu pelepasan. Bukankah sudah cukup sebuah penderitaan? 13 hari telah berlalu dan tetap tak hilang. Menikmati rasa sakit yang begitu perih, ini menyebalkan. Berdamai adalah cara terakhir menerima realitas bahwa obsesi tentang harapan telah berakhir. Bagaimana? Berikan cara praktis untuk berdamai, sudah cukup. Ini sangat menyakitkan. Melarikan diri pada siang hari, tenggelam di dunia asing pada malam hari, ketika ada beberapa jam kosong sesak itu muncul. Sialnya selalu berpikir bahwa pelepasan adalah jalan menuju kematian tanpa rasa sakit, tapi seperti apa kematian tanpa rasa sakit itu? Tak ada yang bisa melepas kesakitan walau 0,01 detik. 
Postingan terbaru

JIWA DAN DIVYA

beberapa bedebah meremehkan tentang konsep laku dengan dua tema radikal yaitu jiwa dan divya, aku dan lakonku mungkin tak pernah tersampaikan hingga beberapa orang hanya melihat dalam bentuk dua kata tanpa makna, yahh bagi MERAH NAGA merekalah mayat hidup dalam dunia.  JIWA dalam pengertianku aadalah aspek yang sangat tak bisa di artikan, mungkin ini sesuatu yang bisa dikatakan omong kosong, tapi untuk diri, ini adalah sebuah lakon untuk tetap sadar dan berada pada jalurnya. kita membicarakan tentang jiwa bukan hanya pada ranah abstrak semata tapi sampai pada bagaimana kita bertindak, ini adalah jiwa dalam kepalaku. DIVYA dalam pengertianku mungkin tak lepas dari artian sansekerta tentang kekuatan Tuhan, yaa dalam beberapa sisi lakonku slalu merujuk pada jiwa dan divya, jiwa adalah penerang dan divya adalah pendorong. kira-kira begitulah pengertianku tentang divya, aku tak pernah berbagi lebih dan bahkann selalu bermain dalam imajinasiku dengan membentuk dua orang dalam kepala, dan...

nyatanya

apalah daya, bedebah brengsek mencoba untuk merubah stigma dan kebiasaannya. menjadi proritas dan perhatian berlebihan dikata sakit, menjadi yang tak perduli dikata mempunyai sosok lain, menjadi biasa-biasa seperti kebanyakan lantas kau menggerutu bosan. apa yang harusnya dibuat? pada kata ku ucap pada gerak ku buat. ketenangankah? atau egokah? masa menjadi suram, walau sesak, sudah resikonya. dihargai tidaknya yahh sudah sewajarnya. berdamai dengan diri sendiri adalah hal paling soft untuk dilakukan. menangis pada tumpuan bahu sendiri, menghadap cermin dan memaki diri.

Tiada

Berikan keterangan bukan tatapan tajam tanpa ucapan Berikan peringatan bukan rasa kesal dan ketidaknyamanan Terbukalah itu akan meredam suram. Apakah sudah waktunya beranjak meniadakan kata (Kita)?

01:29

tak bisa menulis tentang sesuatu yang serius, beberapa orang tulisannya begitu membuat kagum. Lalu, "aku ingin" keluar begitu saja setelahnya tercipta masalah. Antara ingin dan gerak tubuh tak sebanding, antara imaji dan realita tak sama. Bagaimanapun Kita terlahir dengan latar berbeda. Ego, pikiran, sampai pada sudut pandang kita berbeda. Kita dibentuk dari dua model. pertama adalah eksternal kita, entah lingkungan dan sebagainya. Kedua internal kita, DNA atau kultur bawaan dari orang tua. Tak apa. Aku, kamu dan kebanyakan orang mempunyai waktu merasakan sesak, tiap kali bersuara dan hanya sampai di kerongkongan tak bisa melepaskan, semua berhak hilang. Jika saja. suara bisa dituliskan dalam beberapa kata, sebagian bisa saja bertemu pagi pada tatapan pertama. Lantas jika?

Rebel

Ini adalah tempat yang bisa menuangkan semua resah, tentang ruang, waktu, tubuh, dan semua hal yang bisa di tulis. Ku telah menghapus semua yang melankolis dari sini. Ku akan menulis tentang hal-hal yang bisa dituangkan tapi dengan gaya yang lebih substansi. Gabungan kata demi kata.