Langsung ke konten utama

nyatanya


apalah daya, bedebah brengsek mencoba untuk merubah stigma dan kebiasaannya.
menjadi proritas dan perhatian berlebihan dikata sakit,
menjadi yang tak perduli dikata mempunyai sosok lain,
menjadi biasa-biasa seperti kebanyakan lantas kau menggerutu bosan.
apa yang harusnya dibuat?
pada kata ku ucap pada gerak ku buat.
ketenangankah? atau egokah?
masa menjadi suram, walau sesak, sudah resikonya. dihargai tidaknya yahh sudah sewajarnya.
berdamai dengan diri sendiri adalah hal paling soft untuk dilakukan. menangis pada tumpuan bahu sendiri, menghadap cermin dan memaki diri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebel

Ini adalah tempat yang bisa menuangkan semua resah, tentang ruang, waktu, tubuh, dan semua hal yang bisa di tulis. Ku telah menghapus semua yang melankolis dari sini. Ku akan menulis tentang hal-hal yang bisa dituangkan tapi dengan gaya yang lebih substansi. Gabungan kata demi kata.

menuju pelepasan

Masih dalam perjalanan menuju pelepasan. 13,09,2020, setiap orang pernah berada di titik terendah antara terus berjalan dan memilih stagnan. Kekuatan rasa pada batin telah hancur hingga tinggal menunggu pelepasan. Bukankah sudah cukup sebuah penderitaan? 13 hari telah berlalu dan tetap tak hilang. Menikmati rasa sakit yang begitu perih, ini menyebalkan. Berdamai adalah cara terakhir menerima realitas bahwa obsesi tentang harapan telah berakhir. Bagaimana? Berikan cara praktis untuk berdamai, sudah cukup. Ini sangat menyakitkan. Melarikan diri pada siang hari, tenggelam di dunia asing pada malam hari, ketika ada beberapa jam kosong sesak itu muncul. Sialnya selalu berpikir bahwa pelepasan adalah jalan menuju kematian tanpa rasa sakit, tapi seperti apa kematian tanpa rasa sakit itu? Tak ada yang bisa melepas kesakitan walau 0,01 detik. 

Tiada

Berikan keterangan bukan tatapan tajam tanpa ucapan Berikan peringatan bukan rasa kesal dan ketidaknyamanan Terbukalah itu akan meredam suram. Apakah sudah waktunya beranjak meniadakan kata (Kita)?