tak bisa menulis tentang sesuatu yang serius, beberapa orang tulisannya begitu membuat kagum. Lalu, "aku ingin" keluar begitu saja setelahnya tercipta masalah.
Antara ingin dan gerak tubuh tak sebanding, antara imaji dan realita tak sama.
Bagaimanapun
Kita terlahir dengan latar berbeda.
Ego, pikiran, sampai pada sudut pandang kita berbeda.
Kita dibentuk dari dua model. pertama adalah eksternal kita, entah lingkungan dan sebagainya.
Kedua internal kita, DNA atau kultur bawaan dari orang tua.
Tak apa.
Aku, kamu dan kebanyakan orang mempunyai waktu merasakan sesak, tiap kali bersuara dan hanya sampai di kerongkongan tak bisa melepaskan, semua berhak hilang.
Jika saja.
suara bisa dituliskan dalam beberapa kata, sebagian bisa saja bertemu pagi pada tatapan pertama.
Lantas jika?
Komentar
Posting Komentar