Langsung ke konten utama

01:29

tak bisa menulis tentang sesuatu yang serius, beberapa orang tulisannya begitu membuat kagum. Lalu, "aku ingin" keluar begitu saja setelahnya tercipta masalah.
Antara ingin dan gerak tubuh tak sebanding, antara imaji dan realita tak sama.

Bagaimanapun
Kita terlahir dengan latar berbeda.
Ego, pikiran, sampai pada sudut pandang kita berbeda.
Kita dibentuk dari dua model. pertama adalah eksternal kita, entah lingkungan dan sebagainya.
Kedua internal kita, DNA atau kultur bawaan dari orang tua.

Tak apa.
Aku, kamu dan kebanyakan orang mempunyai waktu merasakan sesak, tiap kali bersuara dan hanya sampai di kerongkongan tak bisa melepaskan, semua berhak hilang.

Jika saja.
suara bisa dituliskan dalam beberapa kata, sebagian bisa saja bertemu pagi pada tatapan pertama.

Lantas jika?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebel

Ini adalah tempat yang bisa menuangkan semua resah, tentang ruang, waktu, tubuh, dan semua hal yang bisa di tulis. Ku telah menghapus semua yang melankolis dari sini. Ku akan menulis tentang hal-hal yang bisa dituangkan tapi dengan gaya yang lebih substansi. Gabungan kata demi kata.

menuju pelepasan

Masih dalam perjalanan menuju pelepasan. 13,09,2020, setiap orang pernah berada di titik terendah antara terus berjalan dan memilih stagnan. Kekuatan rasa pada batin telah hancur hingga tinggal menunggu pelepasan. Bukankah sudah cukup sebuah penderitaan? 13 hari telah berlalu dan tetap tak hilang. Menikmati rasa sakit yang begitu perih, ini menyebalkan. Berdamai adalah cara terakhir menerima realitas bahwa obsesi tentang harapan telah berakhir. Bagaimana? Berikan cara praktis untuk berdamai, sudah cukup. Ini sangat menyakitkan. Melarikan diri pada siang hari, tenggelam di dunia asing pada malam hari, ketika ada beberapa jam kosong sesak itu muncul. Sialnya selalu berpikir bahwa pelepasan adalah jalan menuju kematian tanpa rasa sakit, tapi seperti apa kematian tanpa rasa sakit itu? Tak ada yang bisa melepas kesakitan walau 0,01 detik. 

Tiada

Berikan keterangan bukan tatapan tajam tanpa ucapan Berikan peringatan bukan rasa kesal dan ketidaknyamanan Terbukalah itu akan meredam suram. Apakah sudah waktunya beranjak meniadakan kata (Kita)?